عَنْ أَبُو مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ إِذَا
لَمْ تَسْتَحْيِ فَافْعَلْ مَا شِئْتَ
Dari Abu Mas'ud ia berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
bersabda: "Sesungguhnya diantara yang didapatkan manusia dari perkataan
(yang disepakati) para Nabi adalah; "Jika kamu tidak punya malu,
maka berbuatlah sesukamu". (H.R. Bukhari 3225, Ibnu Majah 4173,
Ahmad 16470)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْإِيـمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيـمَانِ
Dari Abu Hurairah dari Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Iman memiliki lebih dari
enam puluh cabang, dan malu adalah bagian dari
iman". (H.R. Bukhari 8)
أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ زِيَادٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ
عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيْسَ الْمِسْكِينُ
الَّذِي تَرُدُّهُ الْأُكْلَةَ وَالْأُكْلَتَانِ وَلَكِنْ الْمِسْكِينُ الَّذِي لَيْسَ
لَهُ غِنًى وَيَسْتَحْيِي أَوْ لَا يَسْأَلُ النَّاسَ
إِلْحَافًا
Telah mengabarkan kepada saya
Muhammad bin Ziad berkata; Aku mendengar Abu Hurairah radliallahu 'anhu dari
Nabi Shallallahu'alaihiwasallam: "Bukanlah disebut miskin orang yang bisa
diatasi dengan satu atau dua suap makanan. Akan tetapi yang disebut miskin
adalah orang yang tidak memiliki sesuatu yang mencukupinya dan malu untuk meminta kepada manusia, atau orang yang
tidak meminta kepada manusia dengan mendesak". (H.R. Bukhari 1382)
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْـهُمَا مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رَجُلٍ وَهُوَ يُعَاتِبُ أَخَاهُ فِي الْحَيَاءِ يَقُولُ إِنَّكَ لَتَسْتَحْيِي
حَتَّى كَأَنَّهُ يَقُولُ قَدْ أَضَرَّ بِكَ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ دَعْهُ فَإِنَّ الْحَيَاءَ مِنْ الْإِيـمَانِ
Dari Abdullah bin Umar radliallahu
'anhuma; "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah melewati seorang
laki-laki yang tengah mencela saudaranya karena malu,
kata laki-laki itu; "Sesungguhnya kamu sangat
pemalu hingga hal itu akan membahayakan
bagimu." Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Biarkanlah ia, karena sesungguhnya malu
itu bagian dari iman." (H.R. Bukhari 5653)
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِلْأَشَـجِّ
الْعَصَرِيِّ إِنَّ فِيكَ خَصْلَتَيْنِ يُـحِبُّـهُمَا اللهُ الْحِلْمَ وَالْحَيَاءَ
Dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepada Al Asyaj Al 'Ashri:
"Sesungguhnya dalam dirimu terdapat dua sikap yang dicintai oleh Allah;
sifat santun dan malu." (H.R. Ibnu Majah
4178)
عَنْ أَبِي السَّوَّارِ الْعَدَوِيِّ قَالَ سَـمِعْتُ عِمْرَانَ بْنَ حُصَيْنٍ
قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَيَاءُ
لَا يَأْتِي إِلَّا بِـخَيْرٍ فَقَالَ بُشَيْرُ بْنُ كَعْبٍ مَكْتُوبٌ فِي الْحِكْـمَةِ
إِنَّ مِنْ الْحَيَاءِ وَقَارًا وَإِنَّ مِنْ الْحَيَاءِ
سَكِينَةً فَقَالَ لَهُ عِمْرَانُ أُحَدِّثُكَ عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ وَتُـحَدِّثُنِي عَنْ صَـحِيفَتِكَ
Dari Abu As Sawwar Al 'Adawi dia
berkata; saya mendengar 'Imran bin Hushain berkata; Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bersabda: "Sifat malu itu tidak datang kecuali dengan
kebaikan." Maka Busyair bin Ka'b berkata; "Telah tertulis dalam
hikmah, sesungguhnya dari sifat malu itu terdapat
kewibawaan, sesungguhnya dari sifat malu itu
terdapat ketenangan." Maka Imran berkata kepadanya; "Aku menceritakan
kepadamu dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, sementara kamu
menceritakan kepadaku dari catatanmu." (H.R. Bukahri 5652)
عَنْ أَبِي وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
بَيْنَمَا هُوَ جَالِسٌ فِي الْمَسْجِدِ وَالنَّاسُ مَعَهُ إِذْ أَقْبَلَ ثَلَاثَةُ
نَفَرٍ فَأَقْبَلَ اثْنَانِ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَذَهَبَ
وَاحِدٌ قَالَ فَوَقَفَا عَلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمَّا
أَحَدُهُـمَا فَرَأَى فُرْجَةً فِي الْحَلْقَةِ فَجَلَسَ فِيهَا وَأَمَّا الْآخَرُ
فَجَلَسَ خَلْفَهُمْ وَأَمَّا الثَّالِثُ فَأَدْبَرَ ذَاهِبًا فَلَمَّا فَرَغَ رَسُولُ
اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلَا أُخْبِرُكُـمْ عَنْ النَّفَرِ الثَّلَاثَةِ
أَمَّا أَحَدُهُـمْ فَأَوَى إِلَى اللهِ فَآوَاهُ اللهُ وَأَمَّا الْآخَرُ فَاسْتَحْيَا فَاسْتَحْيَا اللهُ مِنْهُ وَأَمَّا الْآخَرُ
فَأَعْرَضَ فَأَعْرَضَ اللهُ عَنْهُ
Dari Abu Waqid Al Laitsi, bahwa
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ketika sedang duduk bermajelis di
Masjid bersama para sahabat datanglah tiga orang. Yang dua orang menghadap Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam dan yang seorang lagi pergi, yang dua orang terus
duduk bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dimana satu diantaranya nampak
berbahagia bermajelis bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sedang yang
kedua duduk di belakang mereka, sedang yang ketiga berbalik pergi, Setelah
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam selesai bermajelis, Beliau bersabda:
"Maukah kalian aku beritahu tentang ketiga orang tadi?" Adapun yang
pertama diantara mereka, dia meminta perlindungan kepada Allah, maka Allah melindungi
dia. Yang kedua, dia malu, maka Allah pun malu kepadanya. Sedangkan yang ketiga berpaling dari
Allah maka Allah pun berpaling darinya". (H.R. Bukhari 64)
عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا كَانَ
الْفُحْشُ فِي شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ وَمَا كَانَ الْحَيَاءُ
فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ
Dari Anas ia berkata; Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidaklah sifat buruk berada dalam
sesuatu kecuali akan memperburuknya, dan tidaklah sifat malu ada dalam sesuatu kecuali akan menghiasinya." (H.R.
Tirmidzi 1897, menurutnya hadits ini Hasan Gharib)
سَمِعْتُ ابْنَ أَبِي مُلَيْكَةَ يَقُولُ قَالَ ذَكْوَانُ مَوْلَى عَائِشَةَ سَمِعْتُ
عَائِشَةَ تَقُولُ سَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْجَارِيَةِ
يُنْكِحُهَا أَهْلُهَا أَتُسْتَأْمَرُ أَمْ لَا فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَمْ تُسْتَأْمَرُ فَقَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ لَهُ فَإِنَّـهَا
تَسْتَحْيِي فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ فَذَلِكَ إِذْنُـهَا إِذَا هِـيَ سَكَتَتْ
Saya pernah mendengar Ibnu Abi
Mulaikah berkata; Dzakwan, mantan sahay 'Aisyah berkata; Saya telah mendengar
'Aisyah berkata; "Saya bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam mengenai seorang gadis yang dinikahkan oleh keluarganya, apakah harus
meminta izin darinya atau tidak?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
bersabda kepadanya: "Ya, dia dimintai izin." 'Aisyah berkata; Lalu
saya berkata kepada beliau; "Sesungguhnya dia malu
(mengemukakannya)." Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Jika dia diam, maka itulah izinnya." (H.R. Muslim 2544)
Dari Abdullah bin Mas’ud r.a.,
dia berkata, Rasulullah Saw. bersabda,
اِسْتَحْيُوْا
مِنَ اللهِ حَقَّ الْحَيَاءِ. قَالَ: قُلْنَا: يَا نَبِيَّ اللهِ، إِنَّا لَنَسْتَحْتِي وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، قَالَ: لَيْسَ
ذَلِكَ، وَلَكِنَّ الْاِسْتِحْيَاءَ مِنَ اللهِ حَقَّ الْحَيَاءِ، أَنْ تَـحْفَظَ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى وَتَـحْفَظَ
الْبَطْنَ وَمَا حَوَى، وَلْتَذْكُرِ الْمَوْتَ
وَالْبِلَى، وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ تَـرَكَ زِيْنَةَ الدُّنْيَا، فَمَنْ
فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدِ اسْتَحْيَا مِنَ اللهِ حَقَّ
الْحَيَاءِ.
“Malulah kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu.” (Ibnu
Mas’ud) berkata, “Kami berkata, ‘Wahai Nabi Allah, sungguh kami malu,
alhamdulillah’.” Beliau menjawab, “Bukan itu, namun merasa malu kepada Allah
dengan sebenar-benarnya malu adalah kamu menjaga
kepala[1] dan apa yang ada di muatnya[2], dan menjaga bathin[3] serta apa yang ada di dalamnya[4]. Hendaklah kamu mengingat kematian dan bencana. Barangsiapa yang menginginkan akhirat maka hedaklah meninggalkan perhiasan dunia, maka siapa yang berbuat
demikian, maka sungguh dia telah merasa malu
kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu’.”[5]
عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
حَيِيًّا لَا يُسْأَلُ شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ
Dari Sahl bin Sa'ad
Radliyallahu'anhu ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam seorang pemalu, dan tidaklah beliau diminta sesuatu melainkan
akan memberinya. (H.R. Darimi 71)
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ أَشَدَّ حَيَاءً مِنْ الْعَذْرَاءِ فِي خِدْرِهَا
فَإِذَا رَأَى شَيْئًا يَكْرَهُهُ عَرَفْنَاهُ فِي وَجْـهِهِ
Dari Abu Sa'id Al Khudri dia
berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah sosok yang lebih pemalu daripada seorang gadis yang dipingit dalam
rumah, apabila beliau melihat sesuatu yang tidak disukainya, maka kami akan
mengetahui dari wajahnya." (H.R. Bukhari 5637)
Dari
Ibnu Umar r.a., dia berkata, Rasulullah Saw. bersabda,
الْحَيَاءُ وَالْإِيْمَانُ قُرَنَاءُ جَـمِيْعًا فَإِذَا
رَفِعَ أَحَدُهُـمَا رُفِعَ الْآخَرُ.
“Rasa malu
dan iman bergandengan, apabila hilang salah satunya, maka hilang yang lainnya.”[6]
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
الْحَيَاءُ مِنْ الْإِيـمَانِ وَالْإِيـمَانُ فِي الْجَنَّةِ
وَالْبَذَاءُ مِنْ الْجَفَاءِ وَالْجَفَاءُ فِي النَّارِ
Dari Abu Hurairah ia berkata;
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sifat malu adalah bagian dari iman, sedangkan iman itu
tempatnya di dalam surga. Perkataan yang keji itu berasal dari watak dan
perangai yang keras, sedangkan kekerasan itu tempatnya di dalam neraka." (H.R.
Tirmidzi 1932, hadits ini hasan shahih).
حَدَّثَنَا بَـهْزُ بْنُ حَكِيمٍ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ جَدِّي قَالَ قُلْتُ يَا
رَسُولَ اللهِ عَوْرَاتُنَا مَا نَأْتِي مِنْـهَا وَمَا نَذَرُ قَالَ احْفَظْ عَوْرَتَكَ
إِلَّا مِنْ زَوْجَتِكَ أَوْ مَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ فَقَالَ الرَّجُلُ يَكُونُ مَعَ
الرَّجُلِ قَالَ إِنْ اسْتَطَعْتَ أَنْ لَا يَرَاهَا أَحَدٌ فَافْعَلْ قُلْتُ وَالرَّجُلُ
يَكُونُ خَالِيًا قَالَ فَاللهُ أَحَقُّ أَنْ يُسْتَحْيَا
مِنْهُ
Telah menceritakan kepada kami Bahz
bin Hakim telah menceritakan kepada kami Ayahku dari kakekku ia berkata; Aku
bertanya; "Wahai Rasulullah, aurat mana sajakah yang yang harus kami tutup
dan yang kami biarkan (terbuka)? beliau menjawab: "Jagalah auratmu kecuali
kepada istrimu atau budak yang kamu miliki, " dia bertanya lagi;
"Jika sesama lelaki?" beliau menjawab: "Jika kamu mampu supaya
tidak terlihat oleh seorangpun, maka lakukanlah." Aku bertanya; "Jika
seseorang sendirian?" beliau menjawab: "Allah lebih patut dimalui." (H.R. Tirmidzi 2693, hadits ini hasan)
عَنْ أَبِي أُمَامَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْحَيَاءُ وَالْعِـيُّ شُعْبَتَانِ مِنْ الْإِيـمَانِ وَالْبَذَاءُ
وَالْبَيَانُ شُعْبَتَانِ مِنْ النِّفَاقِ
Dari Abu Umamah dari Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Sifat malu dan al 'iyyu adalah dua cabang dari
cabang-cabang keimanan. Sedangkan Al Badza` dan Al Bayan adalah
dua cabang dari cabang-cabang kemunafikan."[7]
عَنْ عَطَاءٍ وَسُلَيْمَانَ ابْنَيْ يَسَارٍ وَأَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ
أَنَّ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُضْطَجِعًا
فِي بَيْتِي كَاشِفًا عَنْ فَخِذَيْهِ أَوْ سَاقَيْهِ فَاسْتَأْذَنَ أَبُو بَكْرٍ فَأَذِنَ
لَهُ وَهُوَ عَلَى تِلْكَ الْحَالِ فَتَحَدَّثَ ثُـمَّ اسْتَأْذَنَ عُمَرُ فَأَذِنَ
لَهُ وَهُوَ كَذَلِكَ فَتَحَدَّثَ ثُـمَّ اسْتَأْذَنَ عُثْمَانُ فَجَلَسَ رَسُولُ اللهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَسَوَّى ثِيَابَهُ قَالَ مُحَمَّدٌ وَلَا أَقُولُ
ذَلِكَ فِي يَوْمٍ وَاحِدٍ فَدَخَلَ فَتَحَدَّثَ فَلَمَّا خَرَجَ قَالَتْ عَائِشَةُ
دَخَلَ أَبُو بَكْرٍ فَلَمْ تَـهْتَشَّ لَهُ وَلَمْ تُبَالِهِ ثُـمَّ دَخَلَ عُمَرُ
فَلَمْ تَـهْتَشَّ لَهُ وَلَمْ تُبَالِهِ ثُـمَّ دَخَلَ عُثْمَانُ فَجَلَسْتَ وَسَوَّيْتَ
ثِيَابَكَ فَقَالَ أَلَا أَسْتَحِـي مِنْ رَجُلٍ تَسْتَحِـي مِنْهُ الْمَلَائِكَةُ
Dari 'Atha dan Sulaiman - kedua anak
Yasar dan Abu Salamah bin 'Abdur Rahman bahwa 'Aisyah berkata; 'Pada suatu
ketika, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sedang berbaring di rumah saya
dengan membiarkan kedua pahanya atau kedua betisnya terbuka. Tak lama kemudian,
Abu Bakar minta izin kepada Rasulullah untuk masuk ke dalam rumah beliau. Maka
Rasulullah pun mempersilahkannya untuk masuk dalam kondisi beliau tetap seperti
itu dan terus berbincang-bincang (tentang suatu hal). Lalu Umar bin Khaththab
datang dan meminta izin kepada Rasulullah untuk masuk ke dalam rumah beliau.
Maka Rasulullah pun mempersilahkannya untuk masuk dalam kondisi beliau tetap
seperti itu dan terus berbincang-bincang (tentang suatu hal). Kemudian Utsman
bin Affan datang dan meminta izin kepada beliau untuk masuk ke dalam rumah
beliau. Maka Rasulullah pun mempersilahkannya untuk masuk seraya mengambil
posisi duduk dan membetulkan pakaiannya. Muhammad berkata; Saya tidak
mengatakan hal itu pada hari yang sama. Lalu Utsman masuk dan langsung
bercakap-cakap dengan beliau tentang berbagai hal. Setelah Utsman keluar dari
rumah, Aisyah bertanva; "Ya Rasulullah, tadi ketika Abu Bakar masuk ke
rumah engkau tidak terlihat tergesa-gesa untuk menyambutnya. Kemudian ketika
Umar datang dan masuk, engkaupun menyambutnya dengan biasa-biasa saja. Akan
tetapi ketika Utsman bin Affan datang dan masuk ke rumah maka engkau segera
bangkit dari pembaringan dan langsung mengambil posisi duduk sambil membetulkan
pakaian engkau. Sebenarnya ada apa dengan hal ini semua ya Rasulullah'?"
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Hai Aisyah, bagaimana
mungkin aku tidak merasa malu kepada seseorang
yang para malaikat saja merasa malu
kepadanya?." (H.R. Muslim 4414)
عَنْ أَبِي أَيُّوبَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
أَرْبَعٌ مِنْ سُنَنِ الْمُرْسَلِينَ الْحَيَاءُ وَالتَّعَطُّرُ
وَالسِّوَاكُ وَالنِّكَاحُ
Dari Abu Ayyub berkata; Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Empat hal yang termasuk sunnah
para rasul: malu, memakai wewangian, siwak, dan
nikah." (H.R. Tirmidzi 1000)
عَنْ سَلْمَانَ الْفَارِسِيِّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَ إِنَّ اللهَ حَيِيٌّ كَرِيـمٌ يَسْتَحْيِي إِذَا
رَفَعَ الرَّجُلُ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُـمَا صِفْرًا خَائِبَتَيْنِ
Dari Salman Al Farisi dari Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah Maha
Hidup dan Maha Mulia, Dia merasa malu apabila
seseorang mengangkat kedua tangannya kepada-Nya dan kembali dalam keadaan
kosong tidak membawa hasil." (H.R. Tirmidzi 3479 menurutnya hadits ini
hasan gharib)
عَنْ زَيْدِ بْنِ طَلْحَةَ بْنِ رُكَانَةَ يَرْفَعُهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
لِكُلِّ دِينٍ خُلُقٌ وَخُلُقُ الْإِسْلَامِ الْحَيَاءُ
Dari Zaid bin Thalhah bin Rukanah
dia memarfu'kan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, dia berkata,
"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Setiap agama
memiliki akhlak, dan akhlak Islam adalah malu."
(H.R. Malik 1406, Ibnu Majah 4171)
عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ رُفَيْعٍ قَالَ سُئِلَ عَطَاءٌ عَنْ شَيْءٍ قَالَ
لَا أَدْرِي قَالَ قِيلَ لَهُ أَلَا تَقُولُ فِيهَا بِرَأْيِكَ قَالَ إِنِّي أَسْتَحْيِي مِنْ اللهِ أَنْ يُدَانَ فِي الْأَرْضِ بِرَأْيِي
Dari Abdul Aziz bin Rufai' ia
berkata: 'Atho` ditanya tentang suatu hal, lalu ia menjawab: 'Aku tidak tahu'
kemudian seseorang berkata: 'mengapa kamu tidak jawab hal tersebut dengan
pendapatmu (saja)? ', ia menjawab: ' Aku malu
kepada Allah untuk menjadikan pendapatku sebagai pedoman di muka bumi'.".
(H.R. Darimi 107)
عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ
اللهَ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا أَرَادَ أَنْ يُـهْلِكَ عَبْدًا نَزَعَ مِنْهُ الْحَيَاءَ فَإِذَا نَزَعَ مِنْهُ الْحَيَاءَ لَمْ تَلْقَهُ إِلَّا مَقِيتًا مُمَقَّتًا فَإِذَا
لَمْ تَلْقَهُ إِلَّا مَقِيتًا مُمَقَّتًا نُزِعَتْ مِنْهُ الْأَمَانَةُ فَإِذَا نُزِعَتْ
مِنْهُ الْأَمَانَةُ لَمْ تَلْقَهُ إِلَّا خَائِنًا مُخَوَّنًا فَإِذَا لَمْ تَلْقَهُ
إِلَّا خَائِنًا مُخَوَّنًا نُزِعَتْ مِنْهُ الرَّحْـمَةُ فَإِذَا نُزِعَتْ مِنْهُ
الرَّحْـمَةُ لَمْ تَلْقَهُ إِلَّا رَجِيـمًا مُلَعَّنًا فَإِذَا لَمْ تَلْقَهُ إِلَّا
رَجِيـمًا مُلَعَّنًا نُزِعَتْ مِنْهُ رِبْقَةُ الْإِسْلَامِ
Dari Ibnu Umar, bahwa Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Apabila Allah 'Azza wa Jalla hendak membinasakan seorang
hamba maka Dia akan mencabut rasa malu darinya,
apabila rasa malu sudah dicabut darinya maka
kamu akan mendapatinya dalam keadaan sangat dibenci. Jika kamu tidak
mendapatinya melainkan dalam keadaan sangat dibenci, maka akan dicabut amanah
darinya, apabila amanah telah dicabut darinya, maka kamu tidak mendapatinya
kecuali dalam keadaan menipu dan tertipu. Apabila kamu tidak menjumpainya
melainkan dalam keadaan menipu dan tertipu, maka akan dicabut darinya rahmat (sifat
kasih sayang), dan apabila dicabut darinya kasih sayang, kamu tidak akan
menjumpainya kecuali dalam keadaan terlaknat lagi terusir, dan apabila kamu
tidak menjumpainya melainkan dalam keadaan terlaknat lagi terusir, maka akan
dicabut darinya ikatan Islam." (H.R. Ibnu Majah 4044)
عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
إِيَّاكُمْ وَالتَّعَرِّيَ فَإِنَّ مَعَكُمْ مَنْ لَا يُفَارِقُكُمْ إِلَّا عِنْدَ
الْغَائِطِ وَحِينَ يُفْضِي الرَّجُلُ إِلَى أَهْلِهِ فَاسْتَحْيُوهُـمْ
وَأَكْرِمُوهُـمْ
Dari Ibnu Umar bahwa Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Janganlah kalian telanjang (tanpa
busana), karena kalian selalu bersama golongan (Malaikat) yang tidak berpisah
dengan kalian, kecuali ketika buang air besar dan ketika seorang lelaki
bersetubuh dengan istrinya, karena itu, malulah
kepada mereka dan muliakanlah mereka." (H.R. Tirmidzi 2724)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَالَ الْإِيـمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا
اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْعَظْمِ عَنْ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيـمَانِ
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Iman itu ada tujuh puluh cabang,
yang paling afdhal adalah LAA ILAAHA ILLAALLAH dan yang paling rendah adalah
menyingkirkan tulang dari jalan, dan malu adalah
bagian dari keimanan." (H.R. Abu Daud 4056)
عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
فِي جَنَازَةٍ فَرَأَى نَاسًا رُكْبَانًا فَقَالَ أَلَا تَسْتَحْيُونَ
إِنَّ مَلَائِكَةَ اللهِ عَلَى أَقْدَامِهِمْ وَأَنْتُمْ عَلَى ظُهُورِ الدَّوَابِّ
Dari Tsauban berkata; "Kami
keluar bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam untuk mengantar jenazah, lalu
beliau melihat sekelompok orang berkendaraan. Beliau berkata; 'Tidakkah kalian malu? Sesungguhnya para Malaikat Allah berjalan dengan
kaki mereka sedangkan kalian di atas kendaraan'!" (H.R. Tirmidzi 933)
كُنَّا
عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذُكِرَ
عِنْدَهُ الْحَيَاءُ، فَقَالُوْا: يَا رَسُوْلَ
اللهِ، الْحَيَاءُ مِنَ الدِّيْنِ؟ فَقَالَ
رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: بَلْ هُوَ الدِّيْنُ كُلُّهُ. ثُـمَّ
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ الْحَيَاءَ وَالْعَفَافَ وَالْعِـيَّ – عِـيَّ
اللِّسَانِ لَا عِـيَّ الْقَلْبِ –، وَالْفِقْهَ مِنَ الْإِيْمَانِ وَإِنَّـهُنَّ
يَـزِدْنَ فِي الْآخِرَةِ وَيَنْقُصْنَ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا يَـزِدْنَ فِي
الْآخِرَةِ أَكْثَـرَ
مِمَّا يَنْقُصْنَ مِنَ الدُّنْيَا وَإِنَّ الشُّحَّ وَالْعَجْزَ وَالْبَذَاءَ
مِنَ النِّفَاقِ وَإِنَّـهُنَّ يَـزِدْنَ فِي الدُّنْيَا وَيَنْقُصْنَ مِنَ
الْآخِرَةِ وَمَا يَنْقُصْنَ مِنَ الْآخِرَةِ أَكْثَـرَ
مِمَّا يَـزِدْنَ مِنَ الدُّنْيَا.
“Kami disamping Nabi Saw. lalu diceritakanlah sikap malu,
lalu mereka bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah rasa malu
termasuk bagian agama?’ Maka Rasulullah Saw. menjawab, ‘Bahkan ia adalah agama
semuanya.’ Kemudian Rasulullah Saw. bersabda lagi, ‘Sungguh rasa malu, al-‘Afaf (mensucikan diri), sedikit bicara dan pemahaman (kefaqihan) termasuk iman, dan sungguh sifat-sifat ini akan menambah akhirat dan
mengurangi dunia, dan yang menambah akhirat jauh lebih banyak daripada yang
mengurangi dunia. Sedangkan sifat bakhil, lemah dan berkata keji termasuk
kemunafikan, dan sifat-sifat ini menambah dunia dan mengurangi akhirat, dan
yang mengurangi akhirat jauh lebih banyak daripada yang menambah dunia’.” (H.R. ath-Thabrani. Shahih lighairihi menurut al-Albani)
حَدَّثَنَا مَرْحُومُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ مِهْرَانَ
قَالَ سَمِعْتُ ثَابِتًا الْبُنَانِيَّ قَالَ كُنْتُ عِنْدَ أَنَسٍ وَعِنْدَهُ ابْنَةٌ
لَهُ قَالَ أَنَسٌ جَاءَتْ امْرَأَةٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ تَعْرِضُ عَلَيْهِ نَفْسَهَا قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَكَ بِي حَاجَةٌ
فَقَالَتْ بِنْتُ أَنَسٍ مَا أَقَلَّ حَيَاءَهَا وَا
سَوْأَتَاهْ وَا سَوْأَتَاهْ قَالَ هِيَ خَيْرٌ مِنْكِ رَغِبَتْ فِي النَّبِيِّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَرَضَتْ عَلَيْهِ نَفْسَهَا
Telah menceritakan kepada kami Marhum
bin Abdul Aziz bin Mihran ia berkata; Aku mendengar Tsabit Al Bunani berkata;
Aku pernah berada di tempat Anas, sedang ia memiliki anak wanita. Anas berkata,
"Ada seorang wanita datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
lalu menghibahkan dirinya kepada beliau. Wanita itu berkata, 'Wahai Rasulullah,
adakah Anda berhasrat padaku?" lalu anak wanita Anas pun berkomentar,
"Alangkah sedikitnya rasa malunya."
Anas berkata, "Wanita itu lebih baik daripada kamu, sebab ia mencintai
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, hingga ia menghibahkan dirinya." (H.R.
Bukhari 4726)
عَنْ أَبِي قَتَادَةَ قَالَ كُنَّا مَعَ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ وَثَـمَّ بُشَيْرُ
بْنُ كَعْبٍ فَحَدَّثَ عِمْرَانُ بْنُ حُصَيْنٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَيَاءُ خَيْرٌ كُلُّهُ
أَوْ قَالَ الْحَيَاءُ كُلُّهُ خَيْرٌ فَقَالَ بُشَيْرُ
بْنُ كَعْبٍ إِنَّا نَـجِدُ فِي بَعْضِ الْكُتُبِ أَنَّ مِنْهُ سَكِينَةً وَوَقَارًا
وَمِنْهُ ضَعْفًا فَأَعَادَ عِمْرَانُ الْحَدِيثَ وَأَعَادَ بُشَيْرٌ الْكَلَامَ قَالَ
فَغَضِبَ عِمْرَانُ حَتَّى احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ وَقَالَ أَلَا أُرَانِي أُحَدِّثُكَ
عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتُـحَدِّثُنِي عَنْ كُتُبِكَ
قَالَ قُلْنَا يَا أَبَا نُجَيْدٍ إِيهٍ إِيهِ
Dari Abu Qatadah ia berkata,
"Aku pernah bersama Imran bin Hushain dan Busyair bin Ka'b, lalu Imran bin
Hushain bercerita. Ia mengatakan, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
bersabda: "Malu itu baik semuanya."
Atau beliau mengatakan: "Malu itu semuanya baik."
Busyair bin Ka'b lalu berkata, "Kami mendapatkan dalam beberapa buku bahwa
malu dapat mendatangkan ketenangan, kewibawaan dan kelemahan!" Imran
mengulangi hadits yang ia sampaikan, sementara Busyair juga mengulangi
kata-katanya." Perawi berkata, "Imran lalu marah hingga kedua matanya
memerah. Lantas ia berkata, "Tidakkah kamu tahu bahwa aku sedang
menyampaikan hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, tapi kenapa justru
kamu menyampaikan apa yang ada dalam bukumu!" Abu Qatadah berkata,
"Kami lalu mengatakan, "Wahai Abu Nujaid! jangan begitu, jangan
begitu." (H.R. Abu Daud 4163)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مُوسَى كَانَ رَجُلًا حَيِيًّا
وَذَلِكَ قَوْلُهُ تَعَالَى {يَا أَيُّـهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ
آذَوْا مُوسَى فَبَرَّأَهُ اللَّهُ مِمَّا قَالُوا وَكَانَ عِنْدَ اللَّهِ وَجِيـهًا}
Dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu
dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya
Musa adalah orang yang sangat pemalu, hal itu
sebagaimana firman Allah Ta’ala: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah
kamu menjadi seperti orang-orang yang menyakiti Musa; maka Allah
membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka katakan. Dan adalah dia
seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah." [Al Ahzaab: 69].
(H.R. Bukhari 4425)
عَنْ عَطَاءٍ عَنْ يَعْلَى أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
رَأَى رَجُلًا يَغْتَسِلُ بِالْبَرَازِ فَصَعِدَ الْمِنْبَرَ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى
عَلَيْهِ وَقَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَلِيمٌ حَيِيٌّ
سِتِّيرٌ يُحِبُّ الْحَيَاءَ وَالسَّتْرَ فَإِذَا اغْتَسَلَ
أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَتِر
Dari 'Atha' dari Ya'la bahwa
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. melihat seorang laki-laki sedang mandi
di tanah lapang, maka beliau naik ke atas mimbar lalu memuji Allah, kemudian
bersabda: "Allah ‘Azza wa Jalla Maha Murah Hati, Maha Malu, dan Maha
Tertutup. Dan cinta terhadap rasa malu dan tertutup. Apabila salah seorang dari
kalian mandi, hendaklah memasang penutup." (H.R. Nasa’i 403)
عَنْ مَالِكِ بْنِ صَعْصَعَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْـهُمَا أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَـهُمْ عَنْ لَيْلَةِ أُسْرِيَ بِهِ بَيْنَمَا
أَنَا فِي الْحَطِيمِ وَرُبَّمَا قَالَ فِي الْحِجْرِ مُضْطَجِعًا إِذْ أَتَانِي آتٍ
فَقَدَّ قَالَ وَسَمِعْتُهُ يَقُولُ فَشَقَّ مَا بَيْنَ هَذِهِ إِلَى هَذِهِ فَقُلْتُ
لِلْجَارُودِ وَهُوَ إِلَى جَنْبِي مَا يَعْنِي بِهِ قَالَ مِنْ ثُغْرَةِ نَـحْرِهِ
إِلَى شِعْرَتِهِ وَسَـمِعْتُهُ يَقُولُ مِنْ قَصِّهِ إِلَى شِعْرَتِهِ فَاسْتَخْرَجَ
قَلْبِي ثُـمَّ أُتِيتُ بِطَسْتٍ مِنْ ذَهَبٍ مَمْلُوءَةٍ إِيـمَانًا فَغُسِلَ قَلْبِي
ثُـمَّ حُشِيَ ثُـمَّ أُعِيدَ ثُـمَّ أُتِيتُ بِدَابَّةٍ دُونَ الْبَغْلِ وَفَوْقَ
الْحِمَارِ أَبْيَضَ فَقَالَ لَهُ الْجَارُودُ هُوَ الْبُرَاقُ يَا أَبَا حَمْزَةَ
قَالَ أَنَسٌ نَعَمْ يَضَعُ خَطْوَهُ عِنْدَ أَقْصَى طَرْفِهِ فَحُمِلْتُ عَلَيْهِ
فَانْطَلَقَ بِي جِبْرِيلُ حَتَّى أَتَى السَّمَاءَ الدُّنْيَا فَاسْتَفْتَحَ فَقِيلَ
مَنْ هَذَا قَالَ جِبْرِيلُ قِيلَ وَمَنْ مَعَكَ قَالَ مُحَمَّدٌ قِيلَ وَقَدْ أُرْسِلَ
إِلَيْهِ قَالَ نَعَمْ قِيلَ مَرْحَبًا بِهِ فَنِعْمَ الْمَجِيءُ جَاءَ فَفَتَحَ فَلَمَّا
خَلَصْتُ فَإِذَا فِيـهَا آدَمُ فَقَالَ هَذَا أَبُوكَ آدَمُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ فَسَلَّمْتُ
عَلَيْهِ فَرَدَّ السَّلَامَ ثُـمَّ قَالَ مَرْحَبًا بِالِابْنِ الصَّالِحِ وَالنَّبِيِّ
الصَّالِحِ ثُـمَّ صَعِدَ بِي حَتَّى أَتَى السَّمَاءَ الثَّانِيَةَ فَاسْتَفْتَحَ
قِيلَ مَنْ هَذَا قَالَ جِبْرِيلُ قِيلَ وَمَنْ مَعَكَ قَالَ مُحَمَّدٌ قِيلَ وَقَدْ
أُرْسِلَ إِلَيْهِ قَالَ نَعَمْ قِيلَ مَرْحَبًا بِهِ فَنِعْمَ الْمَجِيءُ جَاءَ فَفَتَحَ
فَلَمَّا خَلَصْتُ إِذَا يَحْيَى وَعِيسَى وَهُـمَا ابْنَا الْخَالَةِ قَالَ هَذَا
يَحْيَى وَعِيسَى فَسَلِّمْ عَلَيْـهِمَا فَسَلَّمْتُ فَرَدَّا ثُـمَّ قَالَا مَرْحَبًا
بِالْأَخِ الصَّالِحِ وَالنَّبِيِّ الصَّالِحِ ثُـمَّ صَعِدَ بِي إِلَى السَّمَاءِ
الثَّالِثَةِ فَاسْتَفْتَحَ قِيلَ مَنْ هَذَا قَالَ جِبْرِيلُ قِيلَ وَمَنْ مَعَكَ
قَالَ مُحَمَّدٌ قِيلَ وَقَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ قَالَ نَعَمْ قِيلَ مَرْحَبًا بِهِ
فَنِعْمَ الْمَجِيءُ جَاءَ فَفُتِحَ فَلَمَّا خَلَصْتُ إِذَا يُوسُفُ قَالَ هَذَا يُوسُفُ
فَسَلِّمْ عَلَيْهِ فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ فَرَدَّ ثُـمَّ قَالَ مَرْحَبًا بِالْأَخِ
الصَّالِحِ وَالنَّبِيِّ الصَّالِحِ ثُـمَّ صَعِدَ بِي حَتَّى أَتَى السَّمَاءَ الرَّابِعَةَ
فَاسْتَفْتَحَ قِيلَ مَنْ هَذَا قَالَ جِبْرِيلُ قِيلَ وَمَنْ مَعَكَ قَالَ مُحَمَّدٌ
قِيلَ أَوَقَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ قَالَ نَعَمْ قِيلَ مَرْحَبًا بِهِ فَنِعْمَ الْمَجِيءُ
جَاءَ فَفُتِحَ فَلَمَّا خَلَصْتُ إِلَى إِدْرِيسَ قَالَ هَذَا إِدْرِيسُ فَسَلِّمْ
عَلَيْهِ فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ فَرَدَّ ثُـمَّ قَالَ مَرْحَبًا بِالْأَخِ الصَّالِحِ
وَالنَّبِيِّ الصَّالِحِ ثُـمَّ صَعِدَ بِي حَتَّى أَتَى السَّمَاءَ الْخَامِسَةَ فَاسْتَفْتَحَ
قِيلَ مَنْ هَذَا قَالَ جِبْرِيلُ قِيلَ وَمَنْ مَعَكَ قَالَ مُحَمَّدٌ قِيلَ وَقَدْ
أُرْسِلَ إِلَيْهِ قَالَ نَعَمْ قِيلَ مَرْحَبًا بِهِ فَنِعْمَ الْمَجِيءُ جَاءَ فَلَمَّا
خَلَصْتُ فَإِذَا هَارُونُ قَالَ هَذَا هَارُونُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ
فَرَدَّ ثُـمَّ قَالَ مَرْحَبًا بِالْأَخِ الصَّالِحِ وَالنَّبِيِّ الصَّالِحِ ثُمَّ
صَعِدَ بِي حَتَّى أَتَى السَّمَاءَ السَّادِسَةَ فَاسْتَفْتَحَ قِيلَ مَنْ هَذَا قَالَ
جِبْرِيلُ قِيلَ مَنْ مَعَكَ قَالَ مُحَمَّدٌ قِيلَ وَقَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ قَالَ
نَعَمْ قَالَ مَرْحَبًا بِهِ فَنِعْمَ الْمَجِيءُ جَاءَ فَلَمَّا خَلَصْتُ فَإِذَا
مُوسَى قَالَ هَذَا مُوسَى فَسَلِّمْ عَلَيْهِ فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ فَرَدَّ ثُـمَّ
قَالَ مَرْحَبًا بِالْأَخِ الصَّالِحِ وَالنَّبِيِّ الصَّالِحِ فَلَمَّا تَجَاوَزْتُ
بَكَى قِيلَ لَهُ مَا يُبْكِيكَ قَالَ أَبْكِي لِأَنَّ غُلَامًا بُعِثَ بَعْدِي يَدْخُلُ
الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِهِ أَكْثَرُ مِمَّنْ يَدْخُلُهَا مِنْ أُمَّتِي ثُـمَّ صَعِدَ
بِي إِلَى السَّمَاءِ السَّابِعَةِ فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ قِيلَ مَنْ هَذَا قَالَ
جِبْرِيلُ قِيلَ وَمَنْ مَعَكَ قَالَ مُحَمَّدٌ قِيلَ وَقَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ قَالَ
نَعَمْ قَالَ مَرْحَبًا بِهِ فَنِعْمَ الْمَجِيءُ جَاءَ فَلَمَّا خَلَصْتُ فَإِذَا
إِبْرَاهِيمُ قَالَ هَذَا أَبُوكَ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ قَالَ فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ فَرَدَّ
السَّلَامَ قَالَ مَرْحَبًا بِالِابْنِ الصَّالِحِ وَالنَّبِيِّ الصَّالِحِ ثُـمَّ
رُفِعَتْ إِلَيَّ سِدْرَةُ الْمُنْتَـهَى فَإِذَا نَبْقُهَا مِثْلُ قِلَالِ هَـجَرَ
وَإِذَا وَرَقُهَا مِثْلُ آذَانِ الْفِيَلَةِ قَالَ هَذِهِ سِدْرَةُ الْمُنْتَـهَى
وَإِذَا أَرْبَعَةُ أَنْـهَارٍ نَـهْرَانِ بَاطِنَانِ وَنَـهْرَانِ ظَاهِرَانِ فَقُلْتُ
مَا هَذَانِ يَا جِبْرِيلُ قَالَ أَمَّا الْبَاطِنَانِ فَنَـهْرَانِ فِي الْجَنَّةِ
وَأَمَّا الظَّاهِرَانِ فَالنِّيلُ وَالْفُرَاتُ ثُـمَّ رُفِعَ لِي الْبَيْتُ الْمَعْمُورُ
ثُـمَّ أُتِيتُ بِإِنَاءٍ مِنْ خَمْرٍ وَإِنَاءٍ مِنْ لَبَنٍ وَإِنَاءٍ مِنْ عَسَلٍ
فَأَخَذْتُ اللَّبَنَ فَقَالَ هِيَ الْفِطْرَةُ الَّتِي أَنْتَ عَلَيْـهَا وَأُمَّتُكَ
ثُـمَّ فُرِضَتْ عَلَيَّ الصَّلَوَاتُ خَمْسِينَ صَلَاةً كُلَّ يَوْمٍ فَرَجَعْتُ فَمَرَرْتُ
عَلَى مُوسَى فَقَالَ بِمَا أُمِرْتَ قَالَ أُمِرْتُ بِخَمْسِينَ صَلَاةً كُلَّ يَوْمٍ
قَالَ إِنَّ أُمَّتَكَ لَا تَسْتَطِيعُ خَمْسِينَ صَلَاةً كُلَّ يَوْمٍ وَإِنِّي وَاللَّهِ
قَدْ جَرَّبْتُ النَّاسَ قَبْلَكَ وَعَالَجْتُ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَشَدَّ الْمُعَالَجَةِ
فَارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ التَّخْفِيفَ لِأُمَّتِكَ فَرَجَعْتُ فَوَضَعَ
عَنِّي عَشْرًا فَرَجَعْتُ إِلَى مُوسَى فَقَالَ مِثْلَهُ فَرَجَعْتُ فَوَضَعَ عَنِّي
عَشْرًا فَرَجَعْتُ إِلَى مُوسَى فَقَالَ مِثْلَهُ فَرَجَعْتُ فَوَضَعَ عَنِّي عَشْرًا
فَرَجَعْتُ إِلَى مُوسَى فَقَالَ مِثْلَهُ فَرَجَعْتُ فَأُمِرْتُ بِعَشْرِ صَلَوَاتٍ
كُلَّ يَوْمٍ فَرَجَعْتُ فَقَالَ مِثْلَهُ فَرَجَعْتُ فَأُمِرْتُ بِخَمْسِ صَلَوَاتٍ
كُلَّ يَوْمٍ فَرَجَعْتُ إِلَى مُوسَى فَقَالَ بِـمَ أُمِرْتَ قُلْتُ أُمِرْتُ بِخَمْسِ
صَلَوَاتٍ كُلَّ يَوْمٍ قَالَ إِنَّ أُمَّتَكَ لَا تَسْتَطِيعُ خَمْسَ صَلَوَاتٍ كُلَّ
يَوْمٍ وَإِنِّي قَدْ جَرَّبْتُ النَّاسَ قَبْلَكَ وَعَالَجْتُ بَنِي إِسْرَائِيلَ
أَشَدَّ الْمُعَالَجَةِ فَارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ التَّخْفِيفَ لِأُمَّتِكَ
قَالَ سَأَلْتُ رَبِّي حَتَّى اسْتَحْيَيْتُ وَلَكِنِّي
أَرْضَى وَأُسَلِّمُ قَالَ فَلَمَّا جَاوَزْتُ نَادَى مُنَادٍ أَمْضَيْتُ فَرِيضَتِي
وَخَفَّفْتُ عَنْ عِبَادِي
Dari Malik bin Sha'sha'ah
radliallahu 'anhuma, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bercerita kepada
mereka tentang malam perjalanan Isra': "Ketika aku berada di al
Hathim" -atau beliau menyebutkan di al Hijir- dalam keadaan berbaring,
tiba-tiba seseorang datang lalu membelah". Qatadah berkata; Dan aku juga
mendengar dia berkata: "lalu dia membelah apa yang ada diantara ini dan
ini". Aku bertanya kepada Al Jarud yang saat itu ada di sampingku;
"Apa maksudnya?". Dia berkata; "dari lubang leher dada hingga
bawah perut" dan aku mendengar dia berkata; "dari atas dadanya sampai
tempat tumbuhnya rambut kemaluan."lalu laki-laki itu mengeluarkan qolbuku
(hati), kemudian dibawakan kepadaku sebuah wadah terbuat dari emas yang
dipenuhi dengan iman, lalu dia mencuci hatiku kemudian diisinya dengan iman dan
diulanginya. Kemudian aku didatangkan seekor hewan tunggangan berwarna putih
yang lebih kecil dari pada baghal namun lebih besar dibanding keledai." Al
Jarud berkata kepadanya; "Apakah itu yang dinamakan al Buraq, wahai Abu
HAmzah?". Anas menjawab; "Ya. Al Buraq itu meletakkan langkah kakinya
pada pandangan mata yang terjauh"."Lalu aku menungganginya kemudian
aku berangkat bersama Jibril 'alaihis salam hingga sampai di langit dunia. Lalu
Jibril meminta dibukakan pintu langit kemudian dia ditanya; "Siapakah
ini". Jibril menjawab; "Jibril". Ditanyakan lagi; "Siapa
orang yang bersamamu?". Jibril menjawab; "Muhammad". Ditanyakan
lagi; "Apakah dia telah diutus?". Jibril menjawab; "Ya".
Maka dikatakan; "Selamat datang baginya dan ini sebaik-baik kedatangan
orang yang datang". Maka pintu dibuka dan setelah melewatinya aku berjumpa
Adam 'alaihis salam. Jibril AS berkata: "Ini adalah bapakmu, Adam. Berilah
salam kepadanya". Maka aku memberi salam kepadanya dan Adam 'alaihis salam
membalas salamku lalu dia berkata: "Selamat datang anak yang shalih dan
nabi yang shalih". Kemudian aku dibawa naik ke langit kedua, lalu Jibril
meminta dibukakan pintu langit kemudian dia ditanya; "Siapakah ini".
Jibril menjawab; "Jibril". Ditanyakan lagi; "Siapa orang yang
bersamamu?". Jibril menjawab; "Muhammad". Ditanyakan lagi;
"Apakah dia telah diutus?". Jibril menjawab; "Ya". Maka dikatakan;
"Selamat datang baginya dan ini sebaik-baik kedatangan orang yang
datang". Maka pintu dibuka dan setelah aku melewatinya, aku berjumpa
dengan Yahya dan 'Isa 'alaihimas salam, keduanya adalah anak dari satu bibi.
Jibril berkata; "Ini adalah Yahya dan 'Isa, berilah salam kepada
keduanya." Maka aku memberi salam kepada keduanya dan keduanya membalas
salamku lalu keduanya berkata; "Selamat datang saudara yang shalih dan
nabi yang shalih". Kemudian aku dibawa naik ke langit ketiga lalu Jibril
meminta dibukakan pintu langit kemudian dia ditanya; "Siapakah ini".
Jibril menjawab; "Jibril". Ditanyakan lagi; "Siapa orang yang
bersamamu?". Jibril menjawab; "Muhammad". Ditanyakan lagi;
"Apakah dia telah diutus?". Jibril menjawab; "Ya". Maka
dikatakan; "Selamat datang baginya dan ini sebaik-baik kedatangan orang
yang datang". Maka pintu dibuka dan setelah aku melewatinya, aku berjumpa
dengan Yusuf 'alaihis salam. Jibril berkata; "Ini adalah Yusuf. Berilah
salam kepadanya". Maka aku memberi salam kepadanya dan Yusuf membalas
salamku lalu berkata; "Selamat datang saudara yang shalih dan nabi yang
shalih". Kemudian aku dibawa naik ke langit keempat lalu Jibril meminta
dibukakan pintu langit kemudian dia ditanya; "Siapakah ini". Jibril
menjawab; "Jibril". Ditanyakan lagi; "Siapa orang yang bersamamu?".
Jibril menjawab; "Muhammad". Ditanyakan lagi; "Apakah dia telah
diutus?". Jibril menjawab; "Ya". Maka dikatakan; "Selamat
datang baginya dan ini sebaik-baik kedatangan orang yang datang". Maka
pintu dibuka dan setelah aku melewatinya, aku berjumpa dengan Idris 'alaihis
salam. Jibril berkata; "Ini adalah Idris, berilah salam kepadanya".
Maka aku memberi salam kepadanya dan Idris membalas salamku lalu berkata;
"Selamat datang saudar yang shalih dan nabi yang shalih". Kemudian
aku dibawa naik ke langit kelima lalu Jibril meminta dibukakan pintu langit
kemudian dia ditanya; "Siapakah ini". Jibril menjawab;
"Jibril". Ditanyakan lagi; "Siapa orang yang bersamamu?".
Jibril menjawab; "Muhammad". Ditanyakan lagi; "Apakah dia telah
diutus?". Jibril menjawab; "Ya". Maka dikatakan; "Selamat
datang baginya dan ini sebaik-baik kedatangan orang yang datang". Maka
pintu dibuka dan setelah aku melewatinya, aku bertemu dengan Harun 'alaihis
salam. Jibril berkata; "Ini adalah Harun. Berilah salam kepadanya".
Maka aku memberi salam kepadanya dan Harun membalas salamku lalu berkata;
"Selamat datang saudara yang shalih dan nabi yang shalih". Kemudian
aku dibawa naik ke langit keempat lalu Jibril meminta dibukakan pintu langit
kemudian dia ditanya; "Siapakah ini". Jibril menjawab; "Jibril".
Ditanyakan lagi; "Siapa orang yang bersamamu?". Jibril menjawab;
"Muhammad". Ditanyakan lagi; "Apakah dia telah diutus?".
Jibril menjawab; "Ya". Maka dikatakan; "Selamat datang baginya
dan ini sebaik-baik kedatangan orang yang datang". Maka pintu dibuka dan
setelah aku melewatinya, aku mendapatkan Musa 'alaihis salam. Jibril berkata;
"Ini adalah Musa. Berilah salam kepadanya". Maka aku memberi salam
kepadanya dan Musa membalas salamku lalu berkata; "Selamat datang saudara
yang shalih dan nabi yang shalih". Ketika aku sudah selesai, tiba-tiba dia
menangis. Lalu ditanyakan; "Mengapa kamu menangis?". Musa menjawab;
"Aku menangis karena anak ini diutus setelah aku namun orang yang masuk
surga dari ummatnya lebih banyak dari orang yang masuk surga dari ummatku".
Kemudian aku dibawa naik ke langit ketujuh lalu Jibril meminta dibukakan pintu
langit kemudian dia ditanya; "Siapakah ini". Jibril menjawab;
"Jibril". Ditanyakan lagi; "Siapa orang yang bersamamu?".
Jibril menjawab; "Muhammad". Ditanyakan lagi; "Apakah dia telah
diutus?". Jibril menjawab; "Ya". Maka dikatakan; "Selamat
datang baginya dan ini sebaik-baik kedatangan orang yang datang". Maka
pintu dibuka dan setelah aku melewatinya, aku mendapatkan Ibrahim 'alaihis
salam. Jibril berkata; "Ini adalah bapakmu. Berilah salam kepadanya".
Maka aku memberi salam kepadanya dan Ibrahim membalas salamku lalu berkata;
"Selamat datang anak yang shalih dan nabi yang shalih". Kemudian
Sidratul Muntaha diangkat/dinampakkan kepadaku yang ternyata buahnya seperti
tempayan daerah Hajar dengan daunnya laksana telinga-telinga gajah. Jibril
'alaihis salam berkata; "Ini adalah Sidratul Munahaa." Ternyata di
dasarnya ada empat sungai, dua sungai Bathin dan dua sungai Dzahir". Aku
bertanya: "Apakah ini wahai Jibril?". Jibril menjawab; "adapun
dua sungai Bathin adalah dua sungai yang berada di surga, sedangkan dua sungai Dzahir
adalah Nil dan Eufrat". Kemudian aku diangkat ke Baitul Ma'mur, lalu aku
diberi satu gelas berisi khamer, satu gelas berisi susu dan satu gelas lagi
berisi madu. Aku mengambil gelas yang berisi susu. Maka Jibril berkata;
"Ini merupakan fithrah yang kamu dan ummatmu berada di atasnya".
Kemudian diwajibkan bagiku shalat lima puluh kali dalam setiap hari. Aku pun
kembali dan lewat di hadapan Musa 'alaihis salam. Musa bertanya; "Apa yang
telah diperintahkan kepadamu?". aku menjawab: "Aku diperintahkan
shalat lima puluh kali setiap hari". Musa berkata; "Sesungguhnya
ummatmu tidak akan sanggup melaksanakan lima puluh kali shalat dalam sehari,
dan aku, demi Allah, telah mencoba menerapkannya kepada manusia sebelum kamu,
dan aku juga telah berusaha keras membenahi Bani Isra'il dengan
sungguh-sungguh. Maka kembalilah kepada Rabbmu dan mintalah keringanan untuk
umatmu". Maka aku kembali dan Allah memberiku keringanan dengan mengurangi
sepuluh shalat, lalu aku kembali menemui Musa. Maka Musa berkata sebagaimana
yang dikatakan sebelumnya, lalu aku kembali dan Allah memberiku keringanan
dengan mengurangi sepuluh shalat, lalu aku kembali menemui Musa. Maka Musa
berkata sebagaimana yang dikatakan sebelumnya, lalu aku kembali dan Allah
memberiku keringanan dengan mengurangi sepuluh shalat, lalu aku kembali menemui
Musa. Maka Musa berkata sebagaimana yang dikatakan sebelunya. Aku pun kembali,
dan aku di perintah dengan sepuluh kali shalat setiap hari. Lalu aku kembali
dan Musa kembali berkata seperti sebelumnya. Aku pun kembali, dan akhirnya aku
diperintahkan dengan lima kali shalat dalam sehari. Aku kembali kepada Musa dan
dia berkata; "Apa yang diperintahkan kepadamu?". Aku jawab: "Aku
diperintahkan dengan lima kali shalat dalam sehari". Musa berkata;
"Sesungguhnya ummatmu tidak akan sanggup melaksanakan lima kali shalat
dalam sehari, dan sesungguhnya aku, telah mencoba menerapkannya kepada manusia
sebelum kamu, dan aku juga telah berusaha keras membenahi Bani Isra'il dengan
sungguh-sungguh. Maka kembalilah kepada Rabbmu dan mintalah keringanan untuk
umatmu". Beliau berkata: "Aku telah banyak memohon (keringanan)
kepada Rabbku hingga aku malu. Tetapi aku telah
ridla dan menerimanya". Ketika aku telah selesai, terdengar suara orang
yang berseru: "Sungguh Aku telah memberikan keputusan kewajiban-Ku dan Aku
telah ringankan untuk hamba-hamba-Ku". (H.R. Bukhari 3598)
عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَ يَجْتَمِعُ الْمُؤْمِنُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَقُولُونَ لَوْ اسْتَشْفَعْنَا
إِلَى رَبِّنَا فَيَأْتُونَ آدَمَ فَيَقُولُونَ أَنْتَ أَبُو النَّاسِ خَلَقَكَ اللَّهُ
بِيَدِهِ وَأَسْـجَدَ لَكَ مَلَائِكَتَهُ وَعَلَّمَكَ أَسْـمَاءَ كُلِّ شَيْءٍ فَاشْفَعْ
لَنَا عِنْدَ رَبِّكَ حَتَّى يُرِيـحَنَا مِنْ مَكَانِنَا هَذَا فَيَقُولُ لَسْتُ هُنَاكُمْ
وَيَذْكُرُ ذَنْبَهُ فَيَسْتَحِي ائْتُوا نُوحًا فَإِنَّهُ
أَوَّلُ رَسُولٍ بَعَثَهُ اللَّهُ إِلَى أَهْلِ الْأَرْضِ فَيَأْتُونَهُ فَيَقُولُ
لَسْتُ هُنَاكُمْ وَيَذْكُرُ سُؤَالَهُ رَبَّهُ مَا لَيْسَ لَهُ بِهِ عِلْمٌ فَيَسْتَحِي فَيَقُولُ ائْتُوا خَلِيلَ الرَّحْـمَنِ فَيَأْتُونَهُ
فَيَقُولُ لَسْتُ هُنَاكُمْ ائْتُوا مُوسَى عَبْدًا كَلَّمَهُ اللَّهُ وَأَعْطَاهُ
التَّوْرَاةَ فَيَأْتُونَهُ فَيَقُولُ لَسْتُ هُنَاكُمْ وَيَذْكُرُ قَتْلَ النَّفْسِ
بِغَيْرِ نَفْسٍ فَيَسْتَحِي مِنْ رَبِّهِ فَيَقُولُ
ائْتُوا عِيسَى عَبْدَ اللَّهِ وَرَسُولَهُ وَكَلِمَةَ اللَّهِ وَرُوحَهُ فَيَقُولُ
لَسْتُ هُنَاكُمْ ائْتُوا مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَبْدًا غَفَرَ
اللَّهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ فَيَأْتُونِي فَأَنْطَلِقُ
حَتَّى أَسْتَأْذِنَ عَلَى رَبِّي فَيُؤْذَنَ لِي فَإِذَا رَأَيْتُ رَبِّي وَقَعْتُ
سَاجِدًا فَيَدَعُنِي مَا شَاءَ اللَّهُ ثُـمَّ يُقَالُ ارْفَعْ رَأْسَكَ وَسَلْ تُعْطَهْ
وَقُلْ يُسْمَعْ وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ فَأَرْفَعُ رَأْسِي فَأَحْمَدُهُ بِتَحْمِيدٍ
يُعَلِّمُنِيهِ ثُـمَّ أَشْفَعُ فَيَحُدُّ لِي حَدًّا فَأُدْخِلُهُمْ الْجَنَّةَ ثُـمَّ
أَعُودُ إِلَيْهِ فَإِذَا رَأَيْتُ رَبِّي مِثْلَهُ ثُـمَّ أَشْفَعُ فَيَحُدُّ لِي
حَدًّا فَأُدْخِلُهُمْ الْجَنَّةَ ثُـمَّ أَعُودُ الرَّابِعَةَ فَأَقُولُ مَا بَقِيَ
فِي النَّارِ إِلَّا مَنْ حَبَسَهُ الْقُرْآنُ وَوَجَبَ عَلَيْهِ الْخُلُودُ قَالَ
أَبُو عَبْد اللَّهِ إِلَّا مَنْ حَبَسَهُ الْقُرْآنُ يَعْنِي قَوْلَ اللَّهِ تَعَالَى
{خَالِدِينَ فِيـهَا}
Dari Anas radliallahu 'anhu dari Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: "Pada hari kiamat
orang-orang yang beriman berkumpul lalu mereka berkata; 'Sebaiknya kita meminta
syafa'at kepada Rabb kita 'Azza wa Jalla sehingga kita dapat pindah dari tempat
kita sekarang juga.' Lalu mereka mendatangi Adam 'Alaihis Salam seraya
mengatakan; 'Wahai Adam, engkau adalah bapaknya manusia, Allah menciptakanmu
dengan tangan-Nya sendiri dan menjadikan malaikat-malaikat-Nya sujud kepadamu,
serta diajarkan pula kepadamu nama-nama segala sesuatu, maka mintakanlah
syafa'at kepada Rabb kami 'Azza wa Jalla agar Dia memindahkan kami dari tempat
kami ini! ' Maka Adam berkata; 'Bukan aku yang kalian maksud, ' kemudian Adam
menyebutkan dosa yang pernah ia lakukan, hingga dosa tersebut membuatnya malu kepada Allah, lalu Adam berkata; 'Datanglah
kalian kepada Nuh 'Alaihis Salam karena ia adalah rasul pertama kali yang Allah
utus ke muka bumi, ' kemudian mereka pun mendatangi Nuh 'Alaihis Salam, lalu
Nuh berkata; 'Bukan aku yang kalian maksud, ' lalu ia menyebutkan kesalahan dan
permintaannya kepada Rabbnya dengan tanpa ilmu, hingga membuatnya malu kepada Rabbnya; 'akan tetapi datangilah Ibrahim
'Alaihis Salam kekasih Ar Rahman 'Azza wa Jalla, ' maka mereka pun
mendatanginya, lalu Ibrahim mengatakan; 'Bukan aku yang kalian maksud, tapi
datanglah kalian kepada Musa 'Alaihis Salam, seorang hamba yang Allah ajak
bicara secara langsung dan diberikan Taurat.' Maka mereka pun mendatangi Musa,
dan Musa juga berkata; 'Bukan aku yang kalian maksud, ' seraya menyebutkan seseorang
yang dia bunuh tanpa alasan yang benar, hingga hal itu membuatnya malu kepada Rabbnya; 'akan tetapi datanglah kalian
kepada Isa 'Alaihis Salam, hamba Allah dan Rasul-Nya, kalimat serta ruh-Nya.'
Maka mereka pun mendatangi Isa, kemudian Isa mengatakan; 'Bukan aku yang kalian
maksud, akan tetapi datanglah kalian kepada Muhammad, seorang hamba yang
dosanya telah diampuni Allah, baik yang lalu atau yang akan datang.' Maka
mereka pun mendatangiku, maka aku pun pergi sehingga aku meminta izin kepada
Rabbku 'Azza wa Jalla, lalu aku pun diizinkan. Maka ketika aku melihat Rabbku,
aku langsung jatuh sujud kepada Rabbku 'Azza wa Jalla, kemudian Dia
membiarkanku bersujud sekehendak-Nya. Setelah itu dikatakan; 'Bangunlah ya
Muhammad! memintalah maka engkau akan diberikan! berkatalah maka engkau akan
didengarkan! dan mintalah syafa'at maka engkau akan diberi (hak memberi
syafa'at)." Maka aku mengangkat kepalaku dan memuji-Nya dengan pujian yang
Dia ajarkan kepadaku, kemudian aku memberikan syafa'at dan Dia memberikan aku
batasan, lalu aku memasukkan orang-orang ke dalam surga. Kemudian aku kembali
kepada Rabbku 'Azza wa Jalla untuk yang kedua kalinya, dan ketika aku melihat
Rabbku aku langsung jatuh sujud kepada Rabbku, kemudian Dia membiarkanku
bersujud sekehendak-Nya. Kemudian dikatakan; 'Bangunlah ya Muhammad! berkatalah
maka engkau akan didengarkan! memintalah maka engkau akan diberikan! dan
mintalah syafa'at maka engkau akan diberi (hak memberi syafa'at)." Maka
aku mengangkat kepalaku dan memuji-Nya dengan pujian yang Dia ajarkan kepadaku,
kemudian aku memberikan syafa'at dan Dia memberikan aku batasan, lalu aku
memasukkan orang-orang ke dalam surga." Kemudian aku kembali kepada Rabbku
'Azza wa Jalla untuk yang ketiga kalinya, dan ketika aku melihat Rabbku aku langsung
tersungkur bersujud kepada Rabbku, kemudian Dia membiarkanku bersujud
sekehendak-Nya. Kemudian dikatakan; 'Bangunlah ya Muhammad! berkatalah maka
engkau akan didengarkan! memintalah maka engkau akan diberikan! dan mintalah
syafa'at maka engkau akan diberi (hak memberi syafa'at).' Maka aku mengangkat
kepalaku dan memuji-Nya dengan pujian yang Dia ajarkan kepadaku, kemudian aku
memberikan syafa'at dan Dia memberikan aku batasan, lalu aku memasukkan
orang-orang ke dalam surga." Kemudian aku kembali kepada Rabbku 'Azza wa Jalla
untuk yang keempat kalinya, lalu aku berkata: 'Wahai Rabb, tidak ada yang
tersisa kecuali orang yang terhalang oleh Al Qur`an dan wajib kekal di neraka.'
(H.R. Bukari 4116)
[5] HR. Tirmidzi no. 2458, dari Abdullah bin Mas’ud. Syaikh Al Albani
mengatakan bahwa hadits ini shahih.
[6] Diriwayatkan oleh al-Hakim, dan beliau
berkata, “Shahih berdasarkan syarat al-Bukhari dan Muslim.”
[7] H.R. Tirmidzi 1950, Abu Isa berkata: Ini adalah hadits
Hasan Gharib, kami mengetahuinya hanya dari haditsnya Abu Ghassan Muhammad bin
Mutharrif. Ia berkata, Al 'Iyy adalah sedikit bicara dan Al Badza`
adalah kata-kata yang keji, sedangkan Al Bayan adalah banyak bicara
seperi para khatib-khatib yang memperpanjang dan menambah-nambahkan isi
pembicaraan guna memperoleh pujian publik dalam hal-hal yang tidak diridlai
Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar